ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) adalah kondisi spesifik tumbuh kembang organ otak yang terutama mempengaruhi kemampuan individu untuk berkonsentrasi, beraktivitas dan mengontrol perilaku. Kondisi ADHD dimulai pada masa anak yang berlanjut sampai usia dewasa. Individu dengan ADHD memiliki struktur dan fungsi otak spesifik yang bisa mempengaruhi kemampuan fungsional individu tersebut di masyarakat. ADHD bukan penyakit dan juga tidak merupakan kondisi kerusakan otak.
Secara global, kondisi ADHD lebih sering ditemukan pada usia anak, di mana diperkirakan terjadi pada 1 diantara 20 anak dan dua kali lipat lebih sering ditemukan pada anak laki-laki dibandingkan perempuan.
Kondisi ADHD dipengaruhi erat oleh pengaruh genetik dan diturunkan di keluarga. Kondisi gen spesifik tersebut mempengaruhi tumbuh kembang dan kondisi biologis organ otak.
Selanjutnya, beberapa faktor resiko tertentu bisa meningkatkan intensitas dan mempercepat timing munculnya gejala ADHD. Faktor-faktor tersebut antara lain:
Paparan substansi tertentu pada janin selama masa kehamilan seperti asap rokok, penggunaan obat terlarang, gangguan kesehatan pada bumil, atau kondisi gangguan kesehatan mental pada bumil seperti stress pada masa kehamilan.
Masalah saat melahirkan seperti bayi lahir prematur, adanya kondisi bayi distress saat proses melahirkan, atau bayi lahir dengan berat badan rendah.
Kondisi saat bayi baru lahir seperti adanya paparan oleh substansi bersifat toksik, paparan toksin, atau diet yang tidak memadai.
Gangguan bersifat mental selama kehidupan seperti paparan oleh stress yang bersifat kronis, adanya masalah keluarga, terlantar, atau kondisi lingkungan hidup lain di mana anak tidak mendapatkan perawatan semestinya.
Gangguan kesehatan saraf atau gangguan tumbuh kembang pada usia dini.
Kondisi ADHD bermanifestasi dalam bentuk 3 jenis perilaku, yaitu:
Perilaku yang berhubungan dengan kemampuan berkonsentrasi.
Kemampuan berkonsentrasi tidak sesuai dengan usia, di mana anak biasanya tidak mampu mengikuti petunjuk dan sering cepat melupakan petunjuk yang diberikan beberapa saat yang lalu.
Contoh gejala yang berhubungan dengan kemampuan berkonsentrasi antara lain:
Kesalahan yang terjadi karena kurangnya perhatian atau menjawab dengan tidak detil.
Sulit mempertahankan perhatian.
Gagal mengikuti petunjuk.
Menghindari tugas yang kompleks
Perhatian mudah teralih, misalnya: satu pekerjaan belum selesai sudah ditinggalkan untuk mengerjakan pekerjaan lain.
Tidak bisa melakukan pekerjaan yang memerlukan organisasi.
Tidak acuh pada saat diajak berbicara langsung.
Sering kehilangan barang-barang yang diperlukan untuk menyelesaikan tugasnya.
Lemah daya ingat, misalnya sering lupa apa yang sudah dilakukan pada hari itu.
Perilaku hiperaktif.
Beberapa contoh perilaku hiperaktif antara lain:
Tidak bisa duduk diam.
Selalu menggerakkan tangan atau kaki selalu tanpa alasan.
Terlalu banyak berceloteh tanpa dipikirkan.
Tidak pernah kehabisan tenaga, suka memanjat dan berlari.
Kesulitan bermain tanpa ribut-ribut.
Selalu bergerak atau siap bergerak.
Perilaku impulsif.
Beberapa gejala-gejala yang diperlihatkan antara lain:
Tidak bisa menunggu giliran.
Suka menjawab sebelum dipikirkan bahkan sebelum pertanyaan selesai.
Sulit berbaur dengan anak lain.
Sering bertindak tanpa memikirkan akibatnya terlebih dahulu, kadang-kadang bisa membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
Sering menyela pembicaraan.
Gejala-gejala tambahan ADHD antara lain:
Mood anak gampang berubah.
Menyebabkan banyak stress di rumah.
Proses belajar di sekolah tidak berjalan dengan lancar, yang berakibat anak di cap anak tidak pintar.
Emosi tidak stabil.
Kurang cekatan melakukan pekerjaan sehari-hari.
Tingkat keparahan kondisi ADHD dikelompokkan menjadi tiga, yang ditentukan berdasarkan frekuensi dan intensitas gejala, serta dampak yang ditimbulkan pada fungsi hidup individu sehari‑hari.
1. ADHD Ringan
Ciri utama:
Jarang memperlihatkan gejala kalaupun keluar hanya sedikit melebihi batas.
Gangguan fungsi ada, tetapi terbatas dan tidak terlalu mengganggu aktivitas sehari-hari.
Kesulitan muncul pada situasi tertentu, misalnya mengerjakan tugas sekolah yang panjang, pekerjaan bersifat administratif.
Individu masih dapat berfungsi cukup baik dengan dukungan ringan.
Contoh dalam kehidupan sehari‑hari:
Sering lupa hal kecil, tetapi masih bisa menyelesaikan tugas penting.
Mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi sedikit, tetapi tidak mengganggu hubungan sosial atau pekerjaan secara berarti.
2. ADHD Sedang
Ciri utama:
Gejala lebih banyak dan lebih parah dibanding tingkat ringan.
Gangguan fungsi jelas terlihat di beberapa lokasi: sekolah, pekerjaan, rumah, atau hubungan sosial.
Membutuhkan strategi dukungan yang lebih berstruktur.
Contoh dalam kehidupan sehari‑hari:
Kesulitan secara konsisten di dalam mengatur waktu dan menyelesaikan tugas.
Kinerja akademik atau pekerjaan sering naik‑turun.
Emosi lebih mudah meledak atau sulit dikendalikan.
3. ADHD Berat
Ciri utama:
Lebih banyak memperlihatkan gejala dari kesulitan berkonsentrasi dan perilaku hiperaktif dan impulsif.
Gejala sangat parah sehingga sangat mengganggu fungsi hidup sehari-hari.
Gangguan terlihat di berbagai lokasi dan kondisi seperti saat di rumah, di sekolah, saat bekerja, ataupun saat berinteraksi sosial.
Masalah tambahan seperti kecemasan, kondisi depresi, atau kesulitan belajar sering terlihat.
Contoh dalam kehidupan sehari‑hari:
Sulit menyelesaikan tugas apa pun tanpa bantuan.
Perilaku impulsif mengganggu hubungan sosial bahkan bisa mengancam keselamatan diri.
Mengalami tantangan besar dan sulit mempertahankan pekerjaan atau prestasi akademik.
Kondisi ADHD perlu dibedakan dengan variasi perilaku usia anak yang normal, di mana pada usia anak perhatian juga cepat beralih dan suka bertindak tanpa pertimbangan keamanan.
Kondisi ADHD paling sering diidentifikasi pada usia anak. Individual yang memperlihatkan perilaku konsisten dengan kondisi ADHD, dianjurkan dilakukan pengamatan bertahap dan menghindari cap ADHD secara langsung.
Pengamatan bertahap yang bisa dilakukan adalah:
Observasi secara menyeluruh: dengan tujuan untuk membantu menentukan apakah perilaku terjadi secara persisten, apakah perilaku sesuai dengan usia, apakah perilaku memburuk dengan waktu dan apakah konsisten terjadi di berbagai lokasi seperti di lingkungan rumah, sekolah, tempat kerja ataupun saat berinteraksi sosial.
Orang tua/guru bisa mencatat:
Frekuensi dan/atau situasi perilaku.
Dampak terhadap proses belajar mengajar, interaksi sosial atau kehidupan sehari-hari.
Lokasi perilaku terjadi.
Melakukan penyesuaian penanganan perilaku dan mengubah kondisi lingkungan di sekitar.
Usaha dilakukan untuk mengubah perilaku baik dengan mengubah struktur kegiatan rutin ataupun membuat lingkungan lebih nyaman. Beberapa contoh usaha yang bisa dilakukan antara lain:
Mengubah jadwal rutin yang disesuaikan dengan kondisi dan minat anak.
Memberikan instruksi yang jelas dan disiplin dilakukan secara rutin, instruksi tersebut sebaiknya di kemas dalam bentuk instruksi yang sederhana dan gampang diikuti.
Memberikan petunjuk dengan menggunakan gambar untuk lebih menarik dan mudah dimengerti.
Menghindari lingkungan sekitar yang mudah mengalihkan perhatian anak.
Memberikan pujian apabila anak menyelesaikan tugas-tugasnya, untuk meningkatkan motivasi dan rasa percaya diri anak.
Menyesuaikan posisi duduk anak di kelas.
Memeriksakan ke dokter
Kondisi perilaku yang persisten dan justru memburuk dengan waktu setelah usaha di atas dilakukan, merupakan acuan bahwa pemeriksaan anak ke dokter diperlukan untuk mengidentifikasi kondisi perilaku tersebut. Kondisi ADHD biasanya ditegakkan oleh dokter spesialis anak, psikiatris atau dokter umum yang sudah mendapatkan training. ADHD ditegakkan apabila ketiga manifestasi perilaku ditemukan secara konsisten baik di rumah, di sekolah dan/atau tempat kerja setidaknya selama 6 bulan atau lebih.
Individu teridentifikasi memiliki kondisi ADHD memerlukan penanganan profesional mencakup konseling, penyesuaian lingkungan belajar mengajar baik di rumah ataupun di sekolah, kerjasama antara profesional dengan orang tua dan guru sekolah.
Beberapa jenis intervensi yang bisa dilakukan antara lain:
Terapi perilaku.
Program pelatihan untuk orang tua.
Dukungan sekolah.
Penyesuaian kondisi lingkungan kelas pada saat proses belajar mengajar.
Tutor khusus.
Pelatihan psikologis dasar untuk orang tua dan guru sekolah, dengan pengetahuan yang cukup rasa frustasi di dalam menangani anak dengan ADHD bisa dikurangi.
Beberapa anak dengan ADHD memerlukan obat yang bisa direkomendasikan oleh dokter, untuk bisa berfungsi normal mengerjakan tugas sesuai dengan kemampuannya.
Selain itu, beberapa usaha berikut perlu juga diperhatikan pada saat merawat individu dengan ADHD:
Perhatikan segala kemungkinan tingkah laku yang bisa membahayakan dan usahakan melindungi anak dari kondisi atau situasi yang bisa membahayakan.
Memberikan peringatan apabila anak melakukan hal yang tidak seharusnya, peringatan yang diberikan adalah peringatan yang mendidik, supaya anak bisa mengerti bahwa apa yang dilakukannya adalah tidak seharusnya.
menghindari membesar-besarkan masalah apabila anak melakukan kesalahan.
Usaha yang bisa dilakukan untuk keluarga:
Pengertian dan dukungan untuk berusaha saling bahu membahu dari setiap anggota keluarga akan meningkatkan keberhasilan menangani anak dengan ADHD. Keluarga juga perlu berusaha dan bekerjasama dengan guru sekolah dan tim ahli yang merawat anak tersebut
Kadang kadang merawat anak dengan ADHD bisa membuat keluarga terutama orang tua menjadi sangat lelah dan stress. Kesehatan mental orang tua dengan anak yang memiliki ADHD perlu juga diutamakan, misalnya dengan mengambil libur secara rutin dari mengasuh anak. Anak bisa sekali-sekali dititipkan di orang tua, sanak saudara atau taman bermain.